Showing posts with label Islami. Show all posts
Showing posts with label Islami. Show all posts

KEAJAIBAN DOA


Kisah nyata (terjadi di Pakistan)

Seorang dokter Ahli Bedah terkenal bernama Dr. Ishan tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri seminar dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat. Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: “Saya ini dokter spesial, tiap menit nyawa manusia bergantung pada saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?” Pegawai menjawab: “Wahai dokter, jika Anda terburu-buru Anda bisa menyewa mobil, tujuan Anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba.”

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek.

Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar mereka tersesat dan terasa kelelahan. Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua: “Silahkan masuk, siapa ya?” Terbukalah pintunya.

Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam teleponnya. Ibu itu tersenyum dan berkata: “Telepon apa Nak? Apa Anda tidak sadar ada di mana? Di sini tidak ada listrik, apalagi telepon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan Anda.”

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan. Sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah diantara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do’a yang panjang.

Dokter mendatanginya dan berkata: “Demi Allah, Anda telah membuat saya kagum dengan keramahan Anda dan kemuliaan akhlak Anda, semoga Allah menjawab do’a-do’a Anda.”

Berkata ibu itu: “Nak, Anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do’a-do’a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.”

Bertanya Dr. Ishan: “Apa itu do’anya?” Ibu itu berkata: “Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter dokter yang ada di sini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya; katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo’a kepada Allah agar memudahkannya.”

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: “Allahu Akbar, laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do’a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Saya-lah Dr. Ishan Bu, sungguh Allah subhanahu wa ta'ala telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yang mu'min dengan do’a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini.”

Jangan pernah berhenti berdo’a sampai Allah menjawabnya.



BELAJAR TAWAKKAL DARI SEEKOR BURUNG



Assalamu'alaikum wr. wb

Selamat malam pembaca. bagaimana kabarnya? mudah-mudahan dalam kondisi sehat wal afiyat. Aamiin

Dalam postingan kali ini, berhubung sekarang hari jum'at. jadi saya akan sedikit memberi ilmu pengetahuan tentang semua yang berbau Islami. dan pada postingan ini saya akan sedikit memberi motivasi buat para pembaca khususnya bagi saya sendiri yang bisa kita lihat dari judul di atas tentang Belajar Tawakkal dari Seekor Burung. loh kok dari seekor burung? kan burung hewan bukan manusia, hewan kan gak punya akal kok bisa kita belajar dari tawakkal dari burung? Tentu bisa ! buat lebih jelasnya silahkan baca sampai selesai yaa :)

"Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).
Ternyata ada beberapa sifat dan sikap yang dilakukan oleh burung dalam mencari makanannya, yaitu:

1. Burung selalu bangun pagi

Tidak ada burung yang bangunnya kesiangan, kecuali burung sakit, atau burung malam (burung hantu) hehe. Namun jika dilihat secara umum, burung selalu bangun pagi. Ia bangun dengan penuh optimisme, riang dan gembira tanpa ada rasa khawatir sedikitpun akan makan apa hari ini, tidak pernah khawatir akan rizki yang pasti sudah disiapkan oleh Allah. Bahkan di celah persiapannya, dia sambil sibuk bernyanyi dan membangunkan manusia, seolah dia menunjukkan kepada kita akan rizki Allah yang selalu siap kita jemput. Seolah ia menunjukkan kepada kita bagaimana ia bertasbih kepada Allah, melalui kicauannya.

Contohlah burung saat ia bangun pagi, ia selalu menyempatkan diri untuk bersyukur, memuji Allah yang Maha Pemurah, dan bertasbih kepada Allah melalui nyanyiannya. Kita diberi infrastruktur jauh lebih istimewa daripada burung, mari kita gunakan waktu kita untuk bangun pagi, bersyukur, bertasbih dan bermunajat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh burung.

2. Burung berusaha berdiri, melakukan persiapan sebelum ia akan terbang

Dalam usaha mencari rizki, kita juga harus melakukan “pemanasan”, persiapan fisik maupun mental, maupun fikiran guna kesempurnaan ikhtiar kita.

3. Burung terbang dan mengepakkan sayap melawan gravitasi bumi.

Dalam usaha mencari rizki, jarang sekali tanpa hambatan ataupun kesulitan yang kita hadapi, seperti burung saat terbang dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan gravitasi bumi, agar tidak terjatuh. 

Seperti kita, di setiap usaha ada saja penolakan, kelelahan, kesulitan, kebuntuan berfikir yang kadang kita temui, namun yakinlah, bahwa semua itu akan membuat kita menjadi lebih taat, lebih tangguh, lebih ahli di kemudian hari, seperti otot-otot sayap burung, karena setiap hari melawan kuatnya gravitasi bumi, dia akan menjadi lebih kuat dan kuat lagi, hingga jika dalam cuaca ekstrim sekalipun, dia telah terbiasa. Jika kita telah terbiasa dengan "hujan badai" sulitnya mencari rizki, maka disaat ada cuaca normal, semua kondisi wajar, kita akan dengan mudah menaklukkan tantangan kehidupan tersebut.

4. Saat terbang selalu yakin dan tak pernah ragu

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3)

Saat kita telah berdo’a, dan bertawakkal kepada Allah, maka jangan pernah ragukan hasilnya, karena yakinlah, Allah telah mempersiapkan rizki untuk kita. Burung tak pernah ragu saat terbang, dia selalu yakin bahwa disana ada harapan, yang telah dipersiapkan oleh Allah untuknya.

5. Terbang dengan insting, ke tempat yang rimbun dan subur

Dalam usaha mencari rizki, diperlukan “ilmu” yang relevan, guna menunjang kesempurnaan ikhtiar. Jikalau burung hanya dibekali insting oleh Allah, untuk mencari tempat-tempat yang rimbun dan subur makanan, maka kita diberi panca indra dan akal pikiran yang luar biasa oleh Allah swt, yang bisa kita gunakan untuk menganalisa dimana tempat-tempat yang subur dan rimbun akan rizki Allah swt.

6. Setelah makan, dia bawa pulang sebagian rizkinya

Saat mencari rizki, jangan pernah lupakan beban amanah keluarga, anak istri yang selalu menanti hasil ikhtiar yang kita lakukan

7. Jika mengambil makanan, burung tidak pernah merusak

Saat mengambil makanan, burung selalu dengan cara yang indah dan santun, tidak pernah ia melakukan perusakan dalam proses pencarian makanan, bahkan ada beberapa jenis burung yang membantu proses pembuahan beberapa tanaman.

Malu rasanya, jika kita dalam proses mencari rizki kita, harus merugikan orang, harus merusak hak-hak orang, harus menyakiti dan mengecewakan orang lain.
“Barang siapa yg merasa lelah di sore hari karena mencari rizki dengan tangannya, maka akan diampuni dosa-dosanya.” (HR Tabroni)

Rizki harus kita usahakan dengan penuh keyakinan bahwa Allah swt telah menyediakannya untuk kita. Tentu dengan jalan yang halal sehingga rizki yang diperoleh berbuah berkah. Sehingga tak ada alasan bagi seorang muslim menghalalkan segala cara dalam mencari nafkah atau menghambakan diri pada manusia demi rizki. Kita hanya diminta untuk bersabar, bertawakal, dan berusaha dalam menjemput rizki. Insya Allah kemudahan akan Allah berikan pada hamba-Nya yang istiqomah. Wallahu a’lam.

Mungkin hanya itu yang bisa saya bagikan. semoga bermanfaat dan semoga dapat memotivasi diri kita untuk bisa lebih bertawakkal kepada Allah. dengan selalu berikhtiar dan selalu berdo'a kepada Allah swt. 

Penemu Awal Teori Pesawat Terbang



Assalamu'alaikum Wr. Wb

Selamat siang teman, semoga hari ini dalam kondisi sehat wal afiyat. Aamiin. dalam postingan kali ini saya akan memberi pengetahuan keislaman kita tentang ABBAS IBNU FIRNAS. Ia adalah seorang ilmuwan islam yang pertama kali menemukan teori pesawat terbang. untuk lebih jelasnya baca sampai selesai yaa :)

Mengikut fakta Roger Bacon yang dikenal sebagai peletak dasar teori pesawat terbang ala Barat. Lima ratus tahun sebelum Bacon, Abbas Ibnu Firnas, seorang Muslim Spanyol yang hidup di abad ke-9 Masehi sebenarnya telah mendahuluinya.

Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat satu prototype atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang. Ia mencoba membuat prototype pesawat layang pertama dan menerbangkannya dari atap sebuah menara.



Beliau hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru, Abdul Rahman II, Ibnu Firnas membuat pengumuman yang menghebohkan warga Cordoba. Ia ingin melakukan percobaan ‘terbang’ dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan ‘sayap’ atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.


Hasil dari percobaan beliau terbang dengan alat tersebut berhasil. beliau mampu mendarat walaupun mengalami cedera ringan. Alat yang digunakan Ibnu Firnas inilah yang kemudian dikenal dengan parachute atau pun payung terjun pertama di dunia. Menara Masjid Mezquita di Cordoba menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang Muslim.

Keberhasilannya itu mendorongnya untuk mengembangkan teori penemuan tersebut. Ia melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori berdasarkan tindak laku alam yang dilihatnya. Sebagai salah satu bahan perbandingan penelitiannya adalah bagaimana burung bisa terbang. Dari situlah ia mencoba membuat prototype pesawat layang.

Ada dua catatan penciptaan pesawat terbang Ibnu Firnas. Salah satunya menyebutkan, setelah menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan hasil karyanya itu.

Warga Cordoba waktu itu berkumpul di sekitar sebuah menara. Dari menara itulah Ibnu Firnas akan memperagakan hasil ciptaannya. Ia menjadikan puncak menara itu sebagai landasan untuk beliau terbang. Namun kerana cara berlepas yang kurang baik, ia terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Ia mengalami cedera punggung yang sangat parah. Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan percobaan yang berikutnya.

Catatan versi kedua menyebut, Ibnu Firnas tidak melengkapi pesawat layang buatannya dengan ekor sebagaimana burung. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkannya gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Di catatan kedua pun dikatakan bahawa Ibnu Firnas cedera di punggung. Akibatnya ia tak mampu lagi mengembangkan ciptaannya itu kepada dunia. Sebagai gantinya ia melakukan di dalam ruangan atau boleh di sebut sebagai makmal. Di sana ia mempelajari gejala alam, termasuk mekanisma terjadinya halilintar dan kilat. Dari situ ia berhasil mengembangkan formula untuk membuat gelas dan kristal.

Belum berjaya niatnya membuat pesawat layang, tahun 888 Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggungnya. Selain dikenali sebagai peletak dasar teori pesawat terbang, lelaki yang dikenal dengan nama Latin, Armen Firman, ini juga ahli dalam bidang kimia dan memiliki sifat yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang-barang berteknologi baru saat itu.

Ia tercatat memiliki karya-karya monumental seperti konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ia dikenal pula sebagai pembuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya boleh dilakukan oleh orang-orang Mesir.

Mungkin hanya itu yang dapat saya bagikan. mudah-mudahan ilmu keislaman kita bertambah dan kita semakin termotivasi dengan banyaknya ilmuwan-ilmuwan islam yang memang mampu menciptakan suatu teknologi yang sudah kita rasakan di zaman yang modern ini.

Semoga bermanfaat

Sumber : Berita Islami Masa Kini

WASIAT YANG INDAH


Assalamu'alaikum Wr. Wb 

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: 


(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, 

(2) beliau memerintahkan aku, agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,

(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmi meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,

(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), 

(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,

(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan

(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Subhanallah begitu sangat harus kita laksanakan apa yang diwasiatkan oleh Rosulullah SAW, mudah-mudahan kita dapat mengimplementasikan wasiat tersebut di dalam kehidupan kita. Aamiin

Semoga Bermanfaat :)

TUGAS KULIAH - MA'RIFATUL INSAN -

Mengenal Manusia (Ma'rifatul Insan)



1.1 Definisi (ta’rif) Insan
Manusia dapat didefinisikan sebagai makhluk Allah SWT yang terdiri dari ruh dan jasad yang muliakan Allah SWT dengan posisi sebagai khalifah di muka bumi dan bertugas untuk mengabdi kepada-Nya.

1.2 Hakekat Insan (Manusia)
Manusia itu terdiri dari ruh dan jasad. Dan ruh yang hidup dalam daging dan tulang-belulang, ia memiliki nilai lebih besar daripada seluruh alam kebendaan. Meskipun ruh dan jiwa berkaitan dengan jasad yang berupa benda, namun adanya manusia adalah berkat adanya ruh. Dan ruh adalah asal dan sumber kepribadian manusia, seolah-olah seluruh alam wujud ini diciptakan Allah SWT untuk membentuk manusia agar dapat mengenal hakekat dirinya.

Ruh manusia itu berasal dari alam arwah (alam yang hakikatnya tidak dapat diketahui oleh manusia di mana tempatnya), sedangkan jasmani berasal dari tanah. Setelah keduanya digabung menjadi satu, manusia dimasukkan ke alam yang ke dua yaitu alam rahim (alam kandungan). Setelah terlahir dari perut ibunya, manusia memasuki alam ke tiga yaitu alam dunia (alam fana). Di alam dunia ini manusia akan tinggal untuk sementara sesuai dengan jatah umur yang diberikan oleh Allah SWT.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. (QS. Ar-Rum (30) : 8).

Kemudian setelah manusia mati, baik secara husnul khatimah maupun suul khatimah, ia akan memasuki alam ke empat, yaitu alam kubur (alam barzakh). Di alam ke empat ini manusia akan tinggal sampai tiba hari kiamat atau hari kebangkitan (yaumul ba’ts). Setelah dibangkitkan kembali, manusia akan memasuki alam yang ke lima yaitu padang Mahsyar. Dan di padang Mahsyar inilah semua manusia akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia. Apabila ia berbuat baik selama hidupnya, maka surgalah bagiannya, dan apabila selama hidupnya banyak berbuat maksiat, maka nerakalah yang akan menjadi tempat kedudukannya. Surga dan neraka adalah alam yang ke enam setelah alam Mahsyar.

Dengan akal yang dimilikinya, dalam pandangan Islam, manusia tidak hanya dimuliakan karena ia berbeda dari makhluk yang lainnya, akan tetapi ia dimuliakan karena kualitas kehidupannya di dunia. Kualitas kehidupan manusia tersebut, ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pengabdiannya kepada sang pencipta, Allah SWT; karena pada dasarnya manusia diciptakan hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Semakin baik pengabdiannya kepada Allah SWT, maka ia akan semakin baik dan mulia kedudukannya di sisi Allah SWT. Akan tetapi apabila manusia itu tidak sanggup memerankan sebagai hamba Allah yang baik yang selalu meningkatkan pengabdian kepada-Nya, maka ia akan lebih hina sekalipun harus dibandingkan dengan makhluk Allah yang bernama hewan.

Oleh karena itu, maka sudah seharusnya sebagai manusia yang beriman mengoptimalkan anugerah Allah SWT berupa pendengaran, penglihatan dan hati untuk mendengar, melihat dan memahami ayat-ayat Allah SWT, agar keimanan senantiasa bertambah, sehingga terus bersemangat untuk membelkali diri dengan ketakwaan atau pengabdian kepada Allah SWT dalam rangka menyongsong kehidupan yang abadi di akhirat kelak dengan penuh kebahagiaan dan kesejahteraan.

Sesungguhnya, tidak ada lagi perbekalan yang akan meninggikan derajat manusia di dunia dan di akhirat kelak, kecuali bekal ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT :
Yang artinya : “Berbekalah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah (2) :197)

1.3 Potensi Manusia (Thaqatul insan)
Di antara potensi-potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada manusia adalah :

1.3.1 Pendengaran, Penglihatan dan Hati
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl (16) :78)

1.3.2 Akal
Di antara semua makhluk yang ada di dunia, manusia adalah makhluk yang paling sempurna, baik dari segi fisik maupun pemikiran. Makhluk yang mendekati kesemurnaan manusia adalah hewan, namun ia hanya sanggup mendekati tidak mungkin menyamai kesempurnaan manusia.
Kesempurnaan manusia adalah karena manusia diberi akal oleh Allah SWT, sehingga ia memiliki kemampuan untuk memahami siapa dirinya, dan siapa Allah SWT dan untuk sebenarnya ia diciptakan, di mana dengan pemahaman ini akan menghantarkannya kepada kemuliaan yang sesungguhnya, dan bukan hanya mulia dari sisi penciptaannya saja.

1.3.3 Jasad
Jasad atau anggota tubuh merupakan bagian dari potensi yang dimiliki oleh manusia, untuk membuktikan keimanan dan keislamannya dengan perbuatan. Apa yang telah dilihat oleh hamba, didengar dan difahami dengan akalnnya dari syriat Islam melalui ayat-ayat Allah SWT, kemudian ditentukan oleh hatinya mana yang harus dipilih dan dilakukan, maka giliran jasadlah selanjutnya untuk membuktikan dengan perbuatan.

Dengan demikian sesungguhnya potensi yang diberikan kepada manusia sudah sangat sempurna, tinggal bagaimana manusia itu mengoftimalkan potensi tersebut untuk menjadi manusi yang paling mulia baik didunia ataupun diakhirat kelak dihadapan mahkamah Allah SWT.

1.4 Hakekat Ibadah

1.4.1 Makna Ibadah
Para ulama tauhid dan ulama ushul fiqh meberikan definisi ibadah, bahwa ibadah adalah sebuah nama atau sebutan untuk segala sesuatu, baik ucapan ataupun perbuatan, yang dicintai dan diridloi oleh Allah SWT baik yang nampak ataupun tidak. Ibadah adalah suatu cara untuk mensucikan jiwa dan amal perbuatan manusia, dan ia merupakan prilaku atau tata cara kehidupan seseorang berdasarkan keikhlasan hati sambil mengharap rahmat dan keridlaan Allah Ta’ala.

Mereka mengklasipikasikan ibadah menjadi dua bagian, yaitu ibadah mahdlah dan ghair mahdlah. Ibadah mahdlah adalah ibadah yang dikerjakan secara langsung berhubungan dengan Allah, seperti shalat, shaum dan haji. Sedangkan ibadah ghair mahdlah adalah ibadah yang tidak berhubungan langsung dengan Allah SWT, namun ada hubungannya dengan manusia terlebih dahulu, seperti zakat, infaq dan shadaqah.

1.4.2 Rukun-rukun Ibadah
Pertama, kecintaan yang utuh terhadap al-Ma’bud (Allah SWT). Allah SWT berfirman,
Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al-Baqarah (2) :165)

Kedua, pengharapan yang sempurna terhadap al-Ma’bud (rahmat-Nya). Allah SWT berfirman,
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Israa` (17) : 57)
Ketiga, rasa takut yang sangat terhadap al-Ma’bud (dari adzab-Nya). Allah SWT berfirman,
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al-Israa` (17) : 57)

1.4.3 Syarat diterimanya Ibadah
Ibadah tidak akan diterima, kecuali memenuhi dua syarat, yaitu :
Pertama, Ikhlas dalam melakukan ibadah semata-mata mengharap ridla Allah SWT.
Sesungguhnya Allah SWT tidak akan menerima ibadah seorang hamba, kecuali ibadah tersebut dilakukan dengan penuh keikhlasan, hanya untuk mendapatkan keridlaan-Nya. Ketika seorang hamba melakukan suatu ibadah, tetapi niat yang ada di dalam hatinya adalah riya (ingin dilihat orang lain), atau sum’ah (ingin didengar), atau ingin dikatakan pahlawan, sehingga banyak disebut-sebut orang dan lain sebagainya, itus semua merupakan indikasi ketidak-ikhlasan dalam melakukan suatu ibadah. Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, agar kita tidak melakukan ibadah, kecuali semata-mata mengharap keridlaan-Nya.











Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama ( (98) : 5)

Kedua, mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
Syarat yang ke dua untuk diterimanya suatu ibadah adalah, bahwa ibadah tersebut harus sesuai dengan apa yang dicontohkan dan diperintahkan Rasulullah SAW; karena Allah SWT tidak akan pernah menerima suatu ibadah kecuali sesuai dengan contoh Rasulullah SAW.

Setiap ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, karena hal itu tidak dapat dibenarkan menurut syari’at. Ketika kita melaksanakan shalat-shaum, zakat dan haji harus senantiasa berdasarkan contoh Rasulullah SAW; jika tidak maka kita hanya akan mendapatkan capeknya saja. Hal itu pernah digambarkan oleh Baginda Rasulullah SAW, ada di antara umat Islam yang shalatnya hanya membuahkan capeknya saja dan ketika mereka shaum, hanya mendapatkan lapar dan dahaganya saja.

Dalam realita kehidupan beribadah di tengah-tengah masyarakat, bahkan di kalangan para santri dan santriwati, terkadang muncul sebuah pernyataan, aku melakukan ibadah seperti ini karena guruku juga melakukannya, atau karena ustadz fulan juga membolehkannya, atau keluargaku sudah turun-temurun melakukan ibadah dengan cara seperti ini.

Prinsip melakukan ibadah seperti itu, tentunya tidak sesuai dengan apa yang telah Allah SWT tetapkan, bahwasannya, bahwa ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba harus sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, karena beliau sebagai utusan Allah, memiliki tugas menyampaikan sekaligus menjelaskan risalah Allah SWT, termasuk juga menjelasakan permasalahn ibadah, oleh karena itu, ibadah yang dilakukan oleh seseorang tanpa berdasarkan kepada contoh Rasulullah SAW, walaupun berargumentasi dengan menyebut, unstadznya, orang tuanya, ataupun siapa saja, sebenarnya itu semuanya merupakan bentuk taklid buta dengan tanpa mengetahui dasar –dasar yang sesungguhnya dari Rasulullah SAW.

1.4.4 Tujuan Ibadah
Ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba, pada dasarnya memiliki tujuan :
Pertama, untuk memperlihatkan perasaan hina di hadapan Allah SWT, sehingga diharapkan muncul dalam dirinya sebuah prinsip, bahwa Allah lah satu-satunya Dzat Yang Maha Mulia. Dan seorang hamba tidak dibenarkan untuk bersikap sombong; karena pada dasrnya, tidak ada seorang hambapun yang paling mulia dihadapan Allah SWT, apapun bangsanya, warna kulitnya, ataupun kedudukannya, semuanya tidak akan menjadikannya mulia di hadapan Allah SWT, kecuali dibarengi dengan kualitas ketakwaan yang sesungguhnya (melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya).

Allah SWT berfirman :
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujuraat (49) :13)

Kedua, memperlihatkan rasa cinta yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Rasa cinta merupakan anugerah dari Allah SWT, oleh karenanya, harus senantiasa disyukuri dan diarahkan atau diporsikan sesuai dengan kehendak Dzat Yang Memberikannya.

Ketiga, memperlihatkan rasa takut kepada Allah SWT (dari adzab-Nya), dan memperlihatkan pengharapan yang seutuhnya kepada rahmat-Nya.
Dalam kehidupan sehari-hari, hamba Allah SWT selalu dibarengi dengan dua perasaan, yaitu perasaan takut dan berharap. Namun demikian, bagi seorang hamba yang selalu istiqamah untuk melakukan ibadah kepada Allah SWT, tentunya rasa takut tersebut akan dapat dihindarkan, ia akan selalu memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dalam hidup ini, kecuali terjerembabnya diri ke dalam kemaksiatan; karena ketika itu terjadi, berarti adzab Allah lah yang akan menimpa dirinya.

Allah SWT berfirman,











Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( (2) :218)


Keempat, memperlihatkan rasa syukur yang mendalam terhadap semua ni’mat Allah SWT yang telah diberikan.

Allah SWT berfirman.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashshash (28) : 77

1.5 Kisah Teladan Seputar Ma’rifatul Insan
Dalam Al-Qur’an dikisahkan mengenai kehidupan seorang Nabi Allah yang bernama Yusuf bin Ya’qub ketika ia berada di lingkungan istana tempat di mana ia dirawat dan dibesarkan. Yusuf adalah seorang nabi yang sangat tanpan, sehingga dengan ketampanannya, istri majikan yang merawatnya sampai tergoda dan tergila-gila olehnya.

Pada suatu ketika istri majikannya bermaksud menggoda Yusuf untuk melakukan perbuatan tidak senonoh dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengannya, andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Rabbnya, seingga ia berpaling dari kemungkaran dan kekejian tersebut.

Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan istri majikannya itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu dimuka pintu. Wanita itu berkata:"Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih". Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)",

Pada saat itu, seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka istri majikannya itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka istri majikannya itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar".

Maka tatkala majikan Yusuf itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: "Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar". Selanjutnya majikan Yusuf berkata,”(Hai) Yusuf :"Berpalinglah dari ini, dan kamu hai isteriku mohon ampunlah atas dosamu itu kepada Allah; karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah".

Kejadian tersebut diam-diam telah tersiar ke luar istana, sehingga wanita-wanita di kota berkata:"Isteri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata".

Maka tatkala istri majikan yusuf mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf):"Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata:"Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia".

Singkat cerita, Yusuf pun dipenjarakan oleh majikannya, namun hal itu tidak membuat Yusuf bersedih atau berontak, akan tetapi ia segera memohon kepada Allah SWT,"Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk ( memenuhi keinginan mereka ) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh".

Dari kisah tersebut, dapat diambil hikmahnya, bahwa secara fitrah memang manusia memiliki kecendrungan untuk melakukan hal-hal yang menurut perasaan dan hawa nafsunya baik lagi menyenangkan. Seandainya tanpa ada bimbingan wahyu dan kecerdasan akalnya, maka sudah barang tentu hawa nafsu tersebut sudah terlampiaskan, meskipun sudah diketahui dampak atau akibat yang ditimbulkannya.

Manusia dituntut agar senantiasa menggunakan akalnya dengan baik, senantiasa memikirkan akibat baik dan buruk dari suatu amal yang hendak dilakukannya, agar supaya tidak menyesal dikemudian hari. Dan disamping itu, ia tidak lupa untuk selalu memohon pertolongan dan hidayah Allah SWT.

Yusuf adalah sosok manusia yang cerdas dalam berfikir, tidak terburu-buru dalam menentukan sikapnya; karena ia menyadari bahwa hal yang demikian itu akan menjadikannya menyesal seumur hidup. Dengan kesabaran dan kecerdasan yang dimilikinya, ia mampu bangkit menjadi orang yang terpandang di tengah-tengah masyarakat banyak dan kisahnya senantiasa dikenang sepanjang masa. Wallahu A’lam bish-Shawwab.

SEMOGA BERMANFAAT

- BERBAGI ITU INDAH -

By : Chandra Sentosa